Memperkirakan Cuaca untuk Melindungi Indonesia

Sebuah kisah dari Muhammad Arif Rahman

foto-muhammad-arif-rahman
Muhammad Arif Rahman

Pengalaman singkat dapat mengubah pandangan kita dalam hidup. Ini adalah hal yang saya alami ketika bergabung dalam kursus singkat tentang perubahan iklim dan ketahanan pangan di Universitas Twente, Belanda pada awal 2013. Kursus singkat membuka mata bahwa saya harus rajin meningkatkan ilmu pengetahuan untuk mengikuti perkembangan dinamika ilmu. Bagi saya, belajar adalah proses seumur hidup.

Sejak 2008, saya bekerja di Stasiun Observasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Salah satu tugas saya adalah menjadi peramal cuaca, yakni dengan mengumpulkan dan memproses data tentang perubahan cuaca untuk informasi masyarakat.

Informasi yang disampaikan kepada masyarakat harus mendekati cuaca senyatanya. Ini penting agar bisa mendukung kegiatan orang-orang serta dapat dipakai untuk mengurangi risiko bencana. Sebagai contoh, jika ada daerah yang memiliki potensi hujan lebat selama beberapa hari, BMKG harus menginformasikan kepada masyarakat untuk menyiapkan diri terhadap kemungkinan banjir. Ini juga berlaku saat ada kemungkinan terjadi kekeringan jangka panjang. Informasi perlu disampaikan sesegera mungkin untuk mengantisipasi efek terburuk dari kegagalan panen dan dampak buruk lainnya.

Untuk meningkatkan pengetahuan dalam ilmu meteorologi dan klimatologi, saya mendaftar program beasiswa luar negeri pada tahun 2014. Saya berhasil mencapai tahap wawancara akhir. Sayang, ketika itu saya gagal masuk ke tahap berikutnya. Peristiwa itu membuat saya tertantang untuk mencoba lebih baik lagi pada kesempatan lainnya.

Saya mencoba mengoreksi diri agar lebih baik. Ternyata saya menemukan fakta bahwa saya masih kurang mendalami subjek yang ingin saya tingkatkan. Fokus penelitian saya terlalu luas dan tidak fokus. Kesadaran ini membuat saya lebih yakin saat ingin mendaftar beasiswa pada kesempatan lain.

foto-muhammad-arif-rahman
Arif bersama dengan teman-teman di University of Massachussets Lowell yang tergabung dalam American Meteorology Society.

Pada 2015, kesempatan kedua datang tepat di depan saya. Saya mendengar informasi tentang Beasiswa USAID PRESTASI dari forum komunikasi di kantor. Saya menyiapkan persyaratan dan berkonsultasi dengan rekan-rekan di kantor yang memiliki pengalaman mendapatkan beasiswa luar negeri. Setelah mendapatkan persetujuan atasan, saya mendaftar Program Beasiswa USAID PRESTASI untuk mengejar gelar master dalam program Atmospheric Science.

Ini adalah kesempatan saya untuk berkembang saat berhasil melewati seleksi administrasi dan wawancara, dan akhirnya menjadi penerima Program Beasiswa USAID PRESTASI. Selama enam bulan pelatihan, saya meningkatkan keterampilan bahasa Inggris, kepemimpinan, dan ilmu statistik sebelum akhirnya mendaftar gelar master. Saya diterima di Program Atmospheric Science di Universitas Massachusetts Lowel, Amerika Serikat. Pelatihan itu berguna untuk mempersiapkan saya dengan baik menjelang keberangkatan. Selama tinggal di Amerika dari tahun 2016 hingga lulus pada tahun 2018, saya berhasil melewatinya tanpa kesenjangan budaya. Saya berhasil berbaur dan memberikan yang terbaik dalam lingkungan yang mendukung di kelas saya. Saya belajar keterampilan diplomasi untuk menyampaikan ide-ide dan fakta. Rekan-rekan saya benar-benar terbuka saat mendapat pertanyaan, cepat merespons, dan tanggap saat berdiskusi secara langsung atau melalui email. Itu menguatkan semangat saya untuk segera meraih gelar magister.

Saya bergabung dengan kegiatan di luar kelas, seperti American Meteorologist Society (AMS) di kampus sehingga mendapat informasi terbaru tentang klimatologi, meteorologi, dan geofisika. Saya juga mendapat informasi tentang berbagai kegiatan yang berkaitan dengan studi saya dari AMS. Mereka mengundang saya untuk berpartisipasi sebagai sukarelawan di Boston Marathon, salah satu kompetisi marathon paling terkenal di dunia. Pekerjaan saya sebagai sukarelawan adalah memberi tahu para peserta tentang ramalan cuaca. Pelajaran penting yang saya pelajari adalah semua informasi cuaca diinformasikan dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti untuk semua orang, termasuk yang bukan warga Amerika.

foto-muhammad-arif-rahman
Arif (kiri) bersama teman-teman di Jurusan Atmospheric Sciences pada saat kelulusan.

Pengalaman lain yang tak terlupakan seumur hidup adalah ketika saya menjadi karyawan magang di NASA. Saat itu, saya belajar di bawah bimbingan Dr. Brent Holben, salah satu peneliti terkenal tentang robot aerosol di dunia. Robot aerosol adalah robot yang bertugas mengamati partikel di udara atau di atmosfer, termasuk debu, kabut, asap, dan polutan udara. Saya juga bertemu banyak pakar berbagai bidang kelas dunia di NASA.

Belajar di Amerika juga memberi saya kesempatan lain untuk mengembangkan diri. Pada Maret 2019 misalnya, saya diundang ke Universitas Kyoto Jepang, sebagai pembicara seminar tentang penginderaan jarak jauh. Acara ini adalah kesempatan besar saya untuk berbagi dan berdiskusi dengan peneliti dari negara lain.

Tugas saya saat ini di BMKG adalah untuk berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk membuat langkah-langkah pencegahan, dengan memberikan ramalan cuaca dan informasi iklim secara sederhana agar mudah dipahami. Sebagai contoh, ketika terjadi kebakaran di suatu daerah, kami mengamati pergerakan angin dan potensi wilayah yang terkena dampak asap. Jika informasi dapat diberikan sesegera dan seakurat mungkin, pencegahan risiko dapat dilakukan dengan baik.

Saat ini, saya juga berkoordinasi dengan petugas sosialisasi pertanian di Kalimantan Tengah secara rutin. Kami memberikan informasi terbaru tentang perubahan iklim dan cuaca bagi petani sehingga mereka dapat menanam benih tepat waktu dan tidak terjebak oleh kekeringan atau banjir. Penanaman tepat waktu dapat menjadi kunci untuk memperoleh panen terbaik. Semoga usaha kecil ini dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Bagi anak muda Indonesia, jangan pernah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Miliki keyakinan, kegagalan hanyalah sukses yang tertunda. Tetap optimis dan jadilah generasi terbaik untuk Indonesia. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Program Beasiswa USAID PRESTASI untuk mempercayai saya sebagai salah satu penerima beasiswa sehingga memungkinkan untuk tumbuh sebagai pribadi dan sebagai seorang profesional di kantor saya di BMKG.