USAID - PRESTASI Pre - Departure Orientation 2012

 

Pre – Departure Orientation (PDO) adalah salah satu kegiatan yang menjadi rangkaian persiapan sebelum keberangkatan bagi penerima beasiswa USAID – PRESTASI. Dalam acara ini, para penerima beasiswa dibekali pengetahuan antara lain tentang hal – hal yang harus dipersiapkan baik secara administratif maupun logistik, peraturan – peraturan beasiswa USAID – PRESTASI, dan berbagi pengalaman langsung dengan para alumni.

Kegiatan ini diadakan di Hotel Cemara, Jakarta selama dua hari di tanggal 30 November dan 1 Desember, 2012. Acara dibuka oleh Bapak Hanif Saleh, COR USAID – PRESTASI. Dalam pidato pembukaannya, beliau berpesan agar sekembalinya para penerima beasiswa dari studi, mereka dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan – kegiatan alumni. Para penerima beasiswa USAID – PRESTASI diharapkan juga dapat mengambil bagian dalam proses implementasi USAID Strategic Objective, yang sejalan dengan tujuan pembangunan pemerintah Indonesia.

Para penerima beasiswa yang mengikuti kegiatan ini juga diwajibkan untuk mempersiapkan pertunjukan singkat secara berkelompok dan kelompok penampil terbaik akan menerima hadiah. Dari tujuh kelompok yang ada, pertunjukan yang ditampilkan cukup bervariasi. Beberapa kelompok memilih untuk menyanyi secara akustik, sementara beberapa kelompok lain menampilkan pertunjukan drama, seperti drama yang diadaptasi dari cerita Malin Kundang. Namun, kelompok yang dinilai juri sebagai penampil terbaik adalah kelompok yang mempertunjukkan tarian asal Bali, yang menceritakan tentang perjalanan seorang pemuda Indonesia yang belajar ke Amerika Serikat.

Hari pertama PDO ditutup dengan presentasi oleh tim IIEF sebagai pengelola program. Dalam sesi ini, IIEF menjelaskan secara detail langkah – langkah yang harus ditempuh sebelum keberangkatan dan hal – hal lain untuk memperlancar penerbangan ke Amerika Serikat nantinya.

Berbeda dengan hari pertama, pada hari kedua, pembekalan lebih difokuskan untuk mempersiapkan penerima beasiswa beradaptasi dengan budaya yang berbeda di negeri Paman Sam tersebut. Acara dibuka oleh Ibu Mira Sambada selaku Chief of Party USAID – PRESTASI. Dalam presentasinya, Ibu Mira menjelaskan bahwa hal yang paling sering dialami oleh mahasiswa asing di Amerika Serikat adalah gegar budaya (culture shock) dan tentunya hal ini tidak boleh dianggap remeh. Hal – hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini antara lain dengan tetap aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk kegiatan kemasyarakatan, dan dengan memperluas pergaulan dengan mahasiswa lokal dan internasional.

Sesi kedua diisi oleh Damayanti Rohmaningtyas, atau biasa dipanggil Tyas. Tyas yang merupakan alumnus dari Florida Atlantic University program Manajemen Non-Profit, meninggalkan suami dan dua anaknya yang masih kecil, demi mengejar gelar Master. Tips pertama yang dibagi oleh Tyas adalah, para penerima beasiswa harus mengidentifikasi ketakutan – ketakutan sebelum berangkat dan belajar untuk mengkomunikasikan ketakutan – ketakutan tersebut secara efektif. Persiapan fisik dan mental tentunya juga menjadi hal yang harus dilakukan.

Menurut Tyas, pada awalnya tidak akan mudah untuk berteman dan menjadi bagian dari suatu kelompok belajar. Untuk mempermudah, para penerima beasiswa diharapkan untuk aktif terlibat dalam diskusi di kelas maupun diskusi secara online, agar lebih mudah dikenal. “Saat berkenalan dengan Profesor atau pembimbing akademik nanti, jangan lupa cerita kalau kamu adalah penerima beasiswa. Mereka biasanya menjadi lebih apresiatif karena mengingat motivasi dan usaha yang sudah dilakukan oleh siswa tersebut untuk bisa belajar ke Amerika Serikat”, ujar Tyas.
Alumni kedua yang berbagi pengalaman, sekaligus menjadi penutup acara adalah Zaenal Arifin, yang akrab dipanggil Ari. Alumnus dari University of Pittsburgh studi International Political Economy ini juga sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ALPHA-I, organisasi alumni penerima beasiswa USAID – PRESTASI / HICD. Hal yang penting dilakukan sebelum memulai studi, menurut Ari, adalah menetapkan tujuan yang ingin dicapai nantinya. Berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia, untuk mencapai IPK 4.0 di Amerika Serikat sama sekali bukan hal yang mustahil. Namun tentunya, menghabiskan waktu terfokus untuk studi tanpa melakukan hal lain juga bukan hal direkomendasikan oleh Ari. Untuk menambah pengetahuan dan memperkaya pengalaman, mengikuti konferensi dan magang juga sangat disarankan, setidaknya satu kali selama menempuh studi pascasarjana. “Bisa mendapatkan kesempatan belajar dan hampir tidak mengeluarkan biaya, adalah kesempatan yang langka. Kesempatan ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin”, ujar Ari kepada para penerima beasiswa.