Saatnya Intelektual Muda Membangun Desa untuk Memajukan Bangsa


Photo: pexels.com

Indonesia memiliki lebih dari 74 ribu desa seperti dikutip dari Wikipedia. Jumlah desa yang banyak merupakan kesempatan besar bagi kaum terpelajar untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keahlian mereka dalam membangun bangsa mulai dari kota, pedesaan, hingga daerah pelosok. Sumber dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) menyatakan pemerintah saat ini menjadikan desa sebagai sumbu utama pembangunan nasional.1 Pembangunan mencakup sektor pertanian, pariwisata, dan lainnya.

Dukungan dari pemerintah telah menggairahkan para intelektual untuk belajar dan segera kembali ke daerahnya. Gerakan positif intelektual muda untuk membangun desa diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat setempat. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mendukung pengembangan desa seperti bekerja sama dengan organisasi pemuda setempat—seperti karang taruna—untuk membuat sejumlah lokarya dan pelatihan. Dengan melakukan kegiatan semacam ini, kaum intelektual dapat membantu generasi muda di desa, terutama mereka yang memiliki penghasilan rendah, agar mendapat lebih banyak kesempatan mencari penghasilan tambahan. Kemitraan dengan pebisnis lokal juga perlu dilakukan untuk membuka lapangan pekerjaan dan pasar yang lebih luas.

Bapak Hari Bowo, seorang sarjana asal Cilegon, Banten memutuskan untuk kembali ke desa setelah lulus kuliah. Dia membangun bisnis bernama Vila Ternak Cikerai, yang memasok ternak kambing ke pasar. Bisnisnya berhasil menghidupkan siklus ekonomi di desanya dan memberdayakan para pemuda untuk bekerja di peternakannya. Kompleks bisnisnya memiliki pusat pelatihan untuk karyawan dan generasi muda yang ingin mempelajari keterampilan baru. Pusat pelatihan ini juga memiliki program untuk memberikan pelatihan dasar kepada anak-anak usia sekolah di sekitar Cilegon dan Serang untuk membantu mengembangkan pengetahuan tentang kearifan lokal.2

Cerita lain datang dari Bapak Abdussalam Ramli, sarjana fisika asal Madura, Jawa Timur. Dia kembali ke kota asalnya setelah lulus, lalu bekerja sebagai Kepala Desa Waru Barat, kecamatan Waru, kabupaten Pamekasan. Dia memprakarsai desa pintar sebagai salah satu programnya untuk memudahkan pelayanan publik. Saat ini, Desa Waru Barat memiliki sistem online untuk mendukung pelayanan publik.3 Ia mendidik rekan kerjanya agar memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendukung program kerja, baik dalam institusi maupun untuk melayani publik.

Hari dan Abdussalam adalah contoh dari intelektual yang berhasil meningkatkan kemampuan mereka dan kembali ke daerahnya untuk membangun dan juga meningkatkan kesejahteraan di desa mereka. Kisah-kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi para intelektual, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk terus memberi dorongan terhadap siklus bisnis di tingkat desa. Yang pasti, Indonesia akan tumbuh sangat baik dengan generasi muda yang memiliki kemampuan mumpuni serta berdaya saing tinggi.


1 http://koran-sindo.com/page/news/2016-02-22/0/20/Sarjana_Digugah_Kembali_ke_Desa
2 https://news.detik.com/berita/d-3740543/cerita-hari-lulus-kuliah-balik-ke-desa-dan-raup-rp-5-miliar
3 https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/11/11/ini-dia-sarjana-fisika-yang-sukses-membangun-desanya-menjadi-desa-digital