Mengembangkan Riset Bangunan Tahan Gempa


Photo: pixabay.com

Gempa bumi adalah salah satu fenomena alam yang disebabkan oleh getaran tanah yang keras dan terjadi secara tiba-tiba. Terkadang fenomena ini menyebabkan kehancuran besar, sebagai akibat dari gerakan di dalam kerak bumi atau aktivitas gunung berapi. Getaran gempa bumi itu beragam, dari yang sangat lemah dan tidak terasa hingga yang cukup besar dan mampu menghempas orang-orang di sekitar dan menghancurkan seluruh kota.

Indonesia terletak di sabuk seismik paling aktif yang dikenal sebagai "Cincin Api" yang memiliki 90% kemungkinan dari seluruh dunia untuk terjadi gempa bumi. Indonesia juga terletak di titik pertemuan tiga lempeng benua utama yakni lempeng Pasifik, lempeng Eurasia dan Indo-Australia, serta Filipina yang jauh lebih kecil.

Kondisi geografis ini di satu sisi menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana letusan gunung api, gempa, dan tsunami namun di sisi lain menjadikan Indonesia sebagai wilayah subur dan kaya secara hayati. Debu akibat letusan gunung berapi menyuburkan tanah sehingga masyarakat tetap banyak yang tinggal di area sekitar gunung berapi. Jalur Cincin Api juga memberikan potensi energi tenaga panas bumi yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga alternatif.

Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia, ada 295 garis patahan aktif dari pelat yang diidentifikasi di Indonesia. Angka tersebut mungkin akan meningkat, karena para ahli memperkirakan bahwa ada garis patahan lainnya yang belum teridentifikasi.

Beberapa laporan penelitian mengatakan bahwa aktivitas seismik sedang meningkat selama beberapa tahun terakhir. Sudah saatnya bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan untuk mempraktikkan kebijakan secara nyata dengan bekerja bersama dengan para ilmuwan untuk mengurangi dampak gempa bumi, terutama dampak kerugian masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan penelitian dan penerapannya pada bangunan tahan gempa.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berupaya mengembangkan penggunaan modul beton siap pakai yang dapat disatukan menggunakan baut. Sambungan dari modul ini akan menekan goncangan dari gempa bumi yang sedang berlangsung.

Di bawah ini adalah beberapa terobosan para ilmuwan Indonesia dalam merancang bangunan tahan gempa:

Penggunaan bahan lokal

Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Rumah panggung dari bahan kayu secara umum dianggap lebih tahan gempa dibanding rumah beton. Bahan-bahan alternatif seperti kayu, bambu, rotan, dan lainnya perlu dipertimbangkan untuk dijadikan bahan pembuat bangunan tahan gempa, karena Indonesia memilikinya dalam jumlah besar.

Mempertimbangkan bahan alternatif

Pemerintah Indonesia sudah mengembangkan aspal dengan campuran plastik. Inovasi seperti ini perlu dipertimbangkan juga untuk diaplikasikan untuk pembuatan bangunan tahan gempa. Bahan alternatif seperti plastik atau bahan alternatif lainnya bisa dipertimbangkan, karena Jepang sudah membuat rumah tahan gempa berbahan styrofoam.

Perabot keamanan

Selain riset bangunan tahan gempa, perlu dipertimbangkan juga untuk membuat perabotan untuk mengurangi risiko cidera saat terjadi gempat. Beberapa peneliti di luar negeri sudah berhasil membuat prototipe tempat tidur atau meja yang mampu menahan beban besar untuk melindungi diri dari reruntuhan bangunan. Hal-hal seperti ini juga perlu dikembangkan di Indonesia.