Inilah Cara Milenial Melestarikan Lingkungan


Photo: pixabay.com

Bumi semakin tua dan jumlah penduduk semakin padat. Kepadatan jumlah penduduk meningkatkan permintaan akan sumber daya air, makanan, dan perumahan. Permintaan tersebut memiliki efek samping seperti menyempitnya area hutan untuk area perumahan, meningkatnya polusi udara akibat gas buang kendaraan, dan sebagainya. Riset dari Yale School of Public Health menunjukkan bahwa polusi udara memiliki dampak burung terhadap kesehatan paru-paru dan menurunkan tingkat kecerdasan orang yang tinggal di sekitar lingkungan dengan kualitas udara buruk.

Orang-orang semakin sadar terhadap masalah lingkungan. Banyak dari mereka adalah kaum milenial. Mereka telah menjalankan beberapa aksi nyata untuk menemukan atau menyelesaikan masalah lingkungan untuk masa depan yang lebih baik.

Berikut ini beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk untuk ambil bagian dalam gerakan lingkungan hijau:

Mengurangi limbah plastik

Generasi Millenial sadar bahwa kemasan plastik sangat murah tapi memiliki efek samping yang mahal karena sulit terurai dan memiliki kandungan bahan berbahaya . Hal termudah yang dilakukan oleh para milenial adalah dengan mengurangi limbah plastik dan menggunakan alat alternatif untuk menggantikan plastik. Misalnya dengan mengganti sedotan plastik dengan sedotan logam untuk minuman dan membawa tas jinjing daripada menggunakan kantong plastik saat belanja.

Berolahraga sambil menjaga lingkungan

Generasi milenial menambahkan tujuan baru saat berolahraga. Selain menjaga kesehatan, mereka juga berusaha menjaga lingkungan. Salah satu tindakan yang mereka lakukan adalah dengan melakukan plogging, yaitu joging sembari mengumpulkan sampah yang ada di jalan. Gerakan yang dimulai pada 2016 di Swedia ini sekarang sudah menjadi gerakan global dan banyak milenial berpartisipasi. Di Indonesia sudah ada beberapa gerakan plogging seperti Solo Runners di Solo dan Goodlife Society di Jakarta.

Membuat taman urban

Para milenial aktif bercocok tanam, meskipun lahan tempat tinggal mereka terbatas. Mereka menyiasatinya dengan membuat taman urban. Salah satu yang populer adalah membuat vertical garden. Selain itu sebagian dari mereka juga bertanam di dalam rumah. Selain menyiasati keterbatasan ruang, cara ini bisa membuat ruangan sejuk dan bisa menghemat energi karena tak perlu menggunakan pendingin ruangan.

Mengembangkan pertanian organik

Tren anak muda untuk menjadi petani mulai meningkat lagi. Hal ini terjadi di berbagai belahan dunia. Di Universitas Duke, North Carolina, Amerika Serikat, beberapa mahasiswa mengelola ladang kampus dengan sistem pertanian organik. Di Indonesia beberapa sarjana memilih menjadi petani organik dan mengembangkan start up produk pertanian organik. Mereka ingin mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan.

Berkampanye di media sosial

Media sosial menjadi “senjata” ampuh bagi milenial untuk melestarikan alam. Banyak di antara milenial sharing tips di media sosial tentang aksi peduli lingkungan. Imbasnya semakin banyak orang peduli terhadap pelestarian lingkungan. Gerakan stop sedotan plastik misalnya, bisa populer dan diikuti oleh orang banyak berkat kampanye di media sosial.