Perjalanan ke Washington D.C: Kebangkitan PERMIAS dan Hari Pahlawan

 

Untuk menjadi bagian dari proses kebangkitan PERMIAS. Itulah alasan utama Dion dan Rina mengunjungi Washington DC selama 2 hari pada Mei lalu. Dion dan Rina adalah penerima beasiswa PRESTASI yang saat ini sedang belajar di Michigan State University. Sebagai pengurus inti PERMIAS di universitasnya, mereka berdua sangat bersemangat untuk mengikuti Kongres PERMIAS Nasional yang dipromotori oleh Dino Patti Djalal.

Dion, yang terpilih sebagai Presiden PERMIAS-MSU secara aklamasi, bercerita bahwa Kongres Nasional PERMIAS di Washington DC adalah momentum penting dalam perjalanan organisasi tersebut. Dalam Kongres inilah PERMIAS, yang telah ‘mati suri’ selama kurang lebih 12 tahun, berusaha diaktifkan kembali, sekaligus menjadi ajang bertemunya perwakilan organisasi tersebut yang berasal dari berbagai universitas di Amerika Serikat. Mereka menyadari pentingnya keberadaan PERMIAS Nasional, yang akan menjadi wadah dan mampu berbicara mewakili PERMIAS yang tersebar di beberapa negara bagian. Keputusan penting yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah dibentuknya PERMIAS Nasional yang akan dipimpin secara kolektif dan memiliki Dewan Majelis yang terdiri dari 23 perwakilan PERMIAS Chapter.

Jadwal perjalanan yang bertepatan dengan Hari Pahlawan (Memorial Day) juga membawa kesan tersendiri bagi Dion dan Rina. Untuk memperluas jaringan dan menghemat anggaran, mereka menginap di rumah keluarga Indonesia. Sang tuan rumah, sepasang suami istri yang berprofesi sebagai Dosen Bahasa Indonesia dan Jurnalis VOA, berbaik hati untuk menemani Dion, Rina dan Ira (scholars PRESTASI asal Duke University yang khusus datang untuk menemui Dion dan Rina) menjelajahi beberapa lokasi menarik di Washington DC., seperti Capitol Hill dan kantor VOA.

“Seperti mimpi yang menjadi kenyataan”, cetus Rina saat berada dalam ruang siaran VOA. Ini adalah studio yang khusus menyiarkan berita dalam Bahasa Indonesia. VOA memiliki 23 studio yang digunakan untuk menyiarkan berita dalam 45 bahasa. Peristiwa lain yang berkesan bagi Dion adalah saat menyaksikan parade Hari Pahlawan. Di sana, hari istimewa ini dirayakan dengan pawai motor besar bersuara keras, yang mengingatkan mereka akan suara pesawat tempur Amerika Serikat di waktu Perang Dunia ke 2. “Di Indonesia, kita juga memperingati Hari Pahlawan, namun peringatan itu terkesan eksklusif karena hanya diperingati melalui upacara bendera. Berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat. Mereka bisa kompak tumpah ruah di pinggir jalan demi melambaikan tangan atau mengibar-ngibarkan bendera. Mungkin Indonesia bisa mencontoh pawainya, walaupun tidak perlu menggunakan motor besar”, cerita Dion.