Pendidikan Vokasi Informal untuk Kaum Milenial

Sebuah cerita dari Jasmine Zulkarnain

foto-jasmine-zulkarnain
Foto 1. Jasmine Zulkarnain.

Di abad 21, teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Akses terhadap informasi juga semakin mudah dengan koneksi internet yang cepat dan teknologi mesin pencarian seperti Google. Generasi milenial di zaman ini pun lebih berani memiliki cita-cita sesuai dengan ide-ide kreatif yang muncul dalam pikiran.

Sebagai bagian dari zaman milenial, saya pun ingin bersaing. Seperti kata Charles Eames, seorang desainer arsitektur dari Amerika yang menjadi panutan saya. Beliau mengatakan, jangan pernah takut ke mana ide-ide selanjutnya akan membawamu. Dari situ, saya tak pernah ragu lagi untuk memiliki mimpi dan cita-cita. Salah satunya menjadi seorang arsitek, profesi yang saya jalankan saat ini.

Sebagai seorang arsitek yang bekerja sangat dekat kaitannya dengan lingkungan hidup, saya harus bisa untuk menelaah permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan konstruksi dan arsitektur, serta masyarakat sebagai penggunanya. Selain itu, saya juga bertugas untuk menjadi pendamping pengajar di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (UNHAS) di Makassar, Sulawesi Selatan.

Kesempatan baik pun datang ketika pihak universitas memilih saya menjadi bagian dari tim kerja di UNHAS menuju World Class University. Dalam tugas ini, saya bertanggung jawab untuk mendampingi pengembangan proyek mahasiswa, serta membantu proses perancangan strategi taktis untuk mendapatkan akreditasi internasional dari ASIIN, sebuah lembaga akreditasi pendidikan tingkat internasional yang berbasis di Jerman.

Dinamika menjadi arsitek mendorong saya untuk menempuh pendidikan pasca sarjana. Peningkatan kapabilitas ini penting untuk lebih meningkatkan keterampilan dan mengembangkan jaringan saya. Rencana saya tersebut dimulai dengan mendaftar beasiswa studi master.

foto-jasmine-zulkarnain
Foto 2. Jasmine saat melakukan presentasi di salah satu kelas perkuliahan saat menjalankan studi di Arizona State University, Amerika Serikat.

Dengan mengumpulkan kepercayaan diri, saya menemukan informasi program beasiswa USAID-PRESTASI di sela-sela pencarian di sebuah laman mesin pencari di internet. Saya memutuskan untuk memilih USAID-PRESTASI di antara dua beasiswa lainnya yang juga mengumumkan nama saya sebagai salah satu kandidatnya. Saya memilih USAID-PRESTASI karena Amerika Serikat memiliki sumber keahlian yang terkemuka dalam bidang teknik. Sebagai seorang arsitek, kerja sama dengan para ahli di bidang lainnya adalah salah satu poin penting untuk mencapai tujuan saya berikutnya.

Melalui program USAID-PRESTASI saya melanjutkan studi master di Program Master of Interior Architecture Arizona State University, Amerika Serikat, dengan mengambil konsentrasi di bidang Environment – Clean Energy. Melalui studi ini, saya berharap dapat membantu membentuk lingkungan sekitar dengan gaya hidup yang ramah lingkungan dan bersih. Sehingga bisa sekaligus mendukung kebijakan yang berkelanjutan dari pemerintah di Indonesia, khususnya di Makassar, tempat di mana saya tinggal saat ini.

Sebagai mahasiswa, saya belajar bagaimana mendesain tempat yang memenuhi aspek keberlanjutan sosial, keberlanjutan budaya, keberlanjutan lingkungan, serta keberlanjutan ekonomi. Semua aspeknya fokus dalam keramahan lingkungan yang berorientasi pada penggunanya. Kategori tersebut membentuk sebuah alur proses dalam mendesain ruang yang ramah untuk digunakan oleh manusia.

Sebagai contoh pembuatan sebuah gedung perkantoran. Secara sederhana, alurnya dimulai dari merancang bagaimana gedung tersebut efisien bagi kebutuhan manusia dalam kegiatan perkantoran. Lalu kemudian bertransformasi menjadi arsitektur yang dilengkapi dengan sistem-sistem bangunan penunjang, seperti ruang terbuka hijau, lahan parkir yang memadai, sistem pengairan dan aliran udara terintegrasi. Kuncinya adalah bagaimana manusia dan ruang menjadi hasil karya arsitektur yang berdiri harmonis dengan alam.

Di sini saya telah belajar bagaimana menjadi seorang arsitek profesional. Saya belajar melatih kepekaan dalam memahami kebutuhan manusia diselaraskan dengan membawanya ke dalam karya arsitektur dan diselaraskan dengan alam.

foto-jasmine-zulkarnain
Foto 3.Jasmine (blouse kotak-kotak hitam) bersama rekan-rekan saat mengikuti kelas pertukangan kayu di Haystack Mountain School.

Semangat saya untuk terus bertumbuh di berbagai hal telah membuka banyak kesempatan. Salah satunya adalah untuk mengikuti kelas pertukangan kayu (wood working) yang diadakan oleh Arizona State University dan Haystack Mountain School, membuat saya mendapatkan pengalaman yang belum tentu didapatkan oleh orang lain. Di bawah bimbingan seniman kayu ternama Barbara Cooper, Pengetahuan dasar saya di pertukangan kayu ternyata sangat berguna untuk mengubah ide-ide tersebut menjadi prototipe ke dalam bahasa yang mudah dikomunikasikan dengan para tukang maupun master builder.

Penerapan ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama studi master dimulai dengan berkomunikasi dengan stakeholder di bidang pendidikan, ahli di bidang desain dan konstruksi, akademisi. Hasil dari komunikasi tersebut saya formulasikan ke dalam strategi yang tepat untuk mendukung profesi saya sebagai arsitek/desainer ataupun sebagai tenaga pendamping pengajar di Jurusan Arsitektur.

Sebagai bagian dari generasi milenial, studi yang saya jalani telah mengubah cakrawala pengetahuan saya mengenai desain menjadi lebih luas. Salah satunya adalah mengembangkan pendidikan vokasi informal yang cocok bagi generasi milenial. Cara untuk mencapainya adalah saat ini saya dan empat rekan lainnya mendirikan sebuah makerspace pertama yang ada di Makassar.

Makerspace adalah adalah sebuah forum kegiatan kreatif yang mempertemukan desainer, pengrajin, dan para pemikir kreatif untuk membuat berbagai produk inovatif. Makerspace ini akan mengajak dan memfasilitasi kaum milenial untuk menjadi lebih kreatif dan produktif.

foto-jasmine-zulkarnain
Foto 4. Jasmine (baju bergaris) bersama empat rekannya dalam proyek makerspace.

Pendidikan saat ini dapat ditemukan di sarana lainnya dari instansi-instansi pendidikan. Kemudahan memperoleh informasi melalui internet memberi kesempatan pada siapa saja untuk belajar tentang apapun yang mereka butuhkan. Alasan ini pula yang membuat saya bersama empat rekan lainnya ingin memaksimalkan pendidikan vokasi informal melalui makerspace ini.

Kami mempunyai visi untuk menjadikan makerspace sebagai sarana teknologi yang berfokus pada pendidikan vokasi informal serta mendorong inovasi yang merakyat. Melalui makerspace, kami membuat ruang edukasi untuk memberdayakan anak muda zaman sekarang dalam membuat kerajinan inovasi dari kayu.

Hingga saat ini makerspace telah berhasil melaksanakan tiga sesi kelas kerajinan kayu. Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang dan hampir seluruhnya belum memiliki keterampilan pertukangan kayu. Tak berhenti di situ, kami juga berharap proyek ini bisa merangkul instansi pendidikan formal, seperti UNHAS, sebagai partner kolaborasi keilmuan.

Sebuah kehormatan dan keberuntungan bagi saya menjadi bagian keluarga besar alumni USAID-PRESTASI. Di sini saya tumbuh sebagai seorang arsitek profesional yangmemiliki jaringan lebih luas. Pengalaman ini telah mendorong saya untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita lainnya.

Hal yang tertulis dalam cerita ini adalah potongan kecil dari rangkaian perjalanan saya meraih cita-cita. Saya rindu, untuk terus menginspirasi anak muda lainnya agar terus mengembangkan ide-ide kreatif dalam sebuah karya maupun tindakan. Mari kita berkontribusi aktif membangun Indonesia menjadi lebih baik.