Memastikan kelestarian Tanaman Pangan dan Industri di Indonesia

Sebuah kisah dari Jati Adiputra

foto-jati-adiputra
Jati Adiputra

Dalam hidup ini, setiap orang harus memiliki impian. Saya sendiri memiliki impian melindungi sumber daya hayati Indonesia dari ancaman virus dan penyakit lainnya. Sebagai staf laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Nasional saya harus memastikan tanaman pangan maupun tanaman industri aman dari risiko penyakit.

Sejak masuk bangku kuliah di jurusan Biologi Universitas Nasional, Jakarta dan menyelesaikan pascasarjana di jurusan Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, saya memahami benar bahaya virus dan penyakit tanaman. Brazil pada abad ke-19 adalah penghasil karet nomor satu dunia. Namun, pada awal abad ke-20 serangan jamur daun bernama Microcyclus ulei menghancurkan tanaman karet di Brazil. Produksi anjlok menjadi kurang dari satu persen dari total produksi karet dunia.

Saya tak ingin kejadian seperti di Brazil terjadi di Indonesia. Perkebunan di Indonesia harus dilindungi sebaik mungkin. Sebagai orang yang berkutat di laboratorium untuk memeriksa virus dan penyakit pada tanaman, saya harus terus meningkatkan kompetensi diri agar bisa meningkatkan proteksi pada tanaman di Indonesia. Sebab, jenis virus dan penyakit tanaman terus berkembang. Banyak di antaranya ciri-cirinya laten atau tersembunyi. Hanya uji laboratorium saja yang bisa mendeteksinya.

Untuk meningkatkan kompetensi diri saya, saya mendaftarkan diri untuk kuliah program doktoral di Washington State University, Amerika Serikat pada Departemen Plant Pathology. Saya merasa beruntung bisa kuliah di perguruan tinggi yang sudah berdiri sejak 1890 ini karena tradisi risetnya sangat kuat.

Saya memasuki universitas ini pada 2013 dan selama bulan pertama adalah masa yang menantang bagi saya. Musim dingin menjadi tantangan tersendiri, karena Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Penyesuaian diri pada aturan dan kebiasaan masyarakat Amerika Serikat juga memerlukan proses adaptasi.

Saya sangat menikmati kehidupan kampus di Amerika karena negara ini adalah pusat pengetahuan dunia. Saya bisa bertemu dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Sangat menyenangkan bisa berkenalan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Saya jadi bisa belajar budaya dari berbagai negara.

Kuliah di Amerika Serikat membuka peluang untuk memperdalam pengetahuan dan mengembangkan kompetensi. Kegiatan seminar dan workshop skala internasional sering digelar. Selama saya di Amerika Serikat, saya mengikuti konferensi tahunan American Pathological Society dua kali (2016 dan 2017). Selain itu saya juga mengikuti konferensi tahunan Washington Association of Wine Grape Growers (2016). Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena saya bisa mengetahui update pengetahuan terbaru di bidang patologi tanaman.

Saya juga mengikut beberapa workshop saat di Amerika Serikat. Salah satu workshop yang menarik bagi saya adalah mempelajari pola makan serangga. Saya mendapatkan pengetahuan spesifik yang sangat bermanfaat untuk mencegah serangan serangga terhadap tanaman pangan dan industri.

Satu lagi kegiatan yang sangat saya sukai saat kuliah di Amerika Serikat, yaitu mengikuti kuliah lapangan. Salah satu kegiatan kuliah lapangan yang sangat berkesan bagi saya adalah saat mengunjungi kebun anggur. Perawatan anggur yang sangat detail dengan teknologi modern menjadi pengalaman baru bagi saya. Kuliah lapangan yang berkesan tersebut akhirnya saya jadikan objek penelitian disertasi saya yaitu tentang virus yang menyerang daun anggur.

foto-jati-adiputra
Jati (kiri) bersama teman-teman di Washington State University.

Program doktoral saya dibiayai oleh Beasiswa USAID PRESTASI. Dukungan tersebut sangat bermanfaat untuk menopang biaya kuliah dan biaya hidup, sehingga saya bisa fokus pada studi saya. Setelah berjuang selama hampir empat tahun, akhirnya saya lulus pada September 2017.

Sekembali ke Indonesia, saya memanfaatkan ilmu yang saya peroleh di luar negeri untuk menjaga tanaman pertanian dan perkebunan tetap lestari. Ilmu yang saya dapat di Amerika Serikat mulai saya praktikkan di laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Nasional. Tujuannya satu, mencegah terjadinya wabah penyakit pada tanaman di Indonesia.

Agar ilmu yang saya peroleh berdampak semakin besar terhadap proses karantina dan pencegahan penyebaran penyakit tanaman, saya ikut aktif menjadi pembicara dalam bimbingan teknis di beberapa balai karantina seperti di Jambi, Yogyakarta, dan Makassar. Saya juga beberapa kali menjadi instruktur training untuk kolega-kolega di balai besar karantina. Semoga melalui kegiatan yang saya lakukan bisa memberikan dampak lebih luas pada aspek karantina.

Saya juga membantu Kementerian Pertanian untuk membuat daftar virus tanaman yang belum ada di Indonesia, ini adalah sebuah upaya baru. Identifikasi virus dan hama penyakit ini penting untuk dilakukan, agar kita mengenali apa gejalanya dan bagaimana cara mencegahnya. Bila sudah tahu jenis virus dan gejalanya, proses pencegahannya lebih mudah dilakukan. Analisis risiko seperti ini harus dilakukan secara reguler.

Melalui apa yang saya berikan, meskipun belum besar, semoga bisa membantu melestarikan tanaman di Indonesia. Saya berharap semakin banyak generasi muda dari Indoesia yang bisa melanjutkan studi di luar negeri untuk mengembangkan kompetensi diri mereka. Indonesia memerlukan sumber daya manusia berkualitas untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Bagi generasi muda di Indonesia, teruslah berusaha untuk menjadi generasi terbaik di Indonesia. Bagi yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, persiapkan diri untuk memiliki kompetensi bahasa asing yang baik, terutama bahasa Inggris. Jangan lupa untuk membangun jejaring sejak kuliah di tingkat sarjana, dan pastikan untuk meraih prestasi terbaik di bidang akademik maupun non-akademik.